Pertanyaan yang Mengubah Arah

Seorang musafir mempersiapkan bekal perjalanan

Perang meletus, media sosial dipenuhi spekulasi kiamat. Banyak yang sibuk menghitung tanda, menafsir ramalan, mencari kepastian tanggal. Padahal pertanyaan yang lebih mendesak bukan “kapan”, melainkan “apakah kita siap?”

Ada kisah dalam hadis yang selalu saya ingat setiap kali melihat hiruk pikuk pembahasan kiamat. Seorang Badui datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya tentang waktu kiamat. Alih-alih menjawab dengan rentang waktu atau daftar tanda, Rasulullah balik bertanya soal kesiapan. Percakapan itu tercatat dalam riwayat Anas bin Malik:

مَتَى السَّاعَةُ؟
“Kapan hari kiamat?”

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟
“Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?”

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, atau sedekah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Kamu bersama orang yang kamu cintai.”

(HR. Bukhari no. 6171)

Jawaban itu menggeser seluruh perspektif. Kiamat bukan ujian pengetahuan tentang masa depan, tapi cermin dari apa yang kita bangun hari ini. Cinta yang dipupuk, kebaikan yang ditanam, hubungan yang dijaga. Semua itu lebih bermakna daripada spekulasi tanggal yang bahkan malaikat pun tidak tahu.

Dan yang lebih dekat dari kiamat besar adalah kiamat personal: kematian kita sendiri. Ia tidak punya jadwal, tidak bisa ditunda, dan pasti datang. Maka alih-alih tenggelam dalam hiruk pikuk tanda-tanda akhir zaman, lebih bijak jika kita menata yang dekat. Hidup dengan integritas, berbuat baik pada sesama, mendekatkan diri pada Tuhan. Karena pada akhirnya, kita akan bersama dengan apa yang kita cintai.

—Robin Syihab

updatedupdated2026-03-052026-03-05