
Di layar lebar Hollywood, Amerika selalu bermimpi sebagai pejuang. Rebels melawan Empire, rakyat melawan penindas, yang lemah melawan yang sewenang. Mereka merayakan perlawanan, bersorak untuk yang tertindas, membeli ilusi bahwa mereka berada di sisi yang benar.
Star Wars memberi mereka Luke Skywalker melawan kekaisaran galaksi. The Hunger Games memberi Katniss Everdeen melawan totalitarianisme yang menelanjangi kemanusiaan. Film demi film, narasi itu berulang, mereka seolah berteriak “kami adalah pemberontak”, “kami melawan tirani”, “kami adalah good guys”. Rakyat Amerika mencintai cerita ini sampai ke sumsum tulang.
Tetapi realitasnya sangat menampar, setelah serangan mematikan ke Iran pada 28 Februari 2026 yang dilakukan Amerika dan Israel, drone dan misil mereka membunuh pejabat negara berdaulat dan ratusan anak-anak sekolah. Invasi atas nama demokrasi yang meninggalkan jutaan jiwa melayang dan negara-negara jadi reruntuhan. Belum lagi basis-basis militer mereka yang tersebar di berbagai negara. Siapa sebenarnya the Empire di sini? Siapa yang punya armada perang terbesar di planet ini? Siapa yang bisa membunuh siapa pun, di mana pun, kapan pun, tanpa pengadilan, tanpa hukum?
Timur Tengah adalah bukti paling telanjang. Irak, Afghanistan, Libya, Syria, Yemen, Iran. Bom-bom Amerika membuat lubang di bumi, dan dari lubang itu mengalir darah anak-anak. Para serviceman pulang dengan medali dan PTSD. Apakah mereka masih merasa bangga? Ketika anak mereka bertanya, “Dulu Papa ngapain di Irak?”, apa yang akan mereka jawab? Bahwa mereka heroik karena ikut membunuh anak-anak dan membuat sebuah bangsa jadi puing?
Amerika tidak akan berhenti nonton film tentang perjuangan. Setiap weekend, bioskop penuh. Setiap kali the underdog menang, ada tepuk tangan. Mereka pulang merasa heroik, merasa terhubung dengan perlawanan. Ironinya tidak pernah sampai, selama mereka nonton Katniss melawan Capitol di layar, di dunia nyata, mereka adalah Capitol. Pajak mereka bayar Peacekeepers. Suara mereka pilih President Snow. Bedanya, di film, the Games ada ending. Di dunia nyata, the Games tidak pernah berhenti.
—Robin Syihab