Menegakkan Dinding yang Miring

Ilustrasi tokoh agama menahan dinding yang roboh sementara penguasa tertawa

Mereka datang dengan jubah kebaikan, membawa dalih pembenaran. Para budayawan, ustadz, gus, dan kyai berbondong mendekati singgasana, mengaku hendak meluruskan yang bengkok dari dalam. Tapi Abu Bakr al-Turtushi, dalam Sirāj al-Mulūk sembilan abad silam, sudah memberi peringatan: siapa yang ingin menegakkan dinding miring, bersiaplah tertimpa reruntuhannya.

Kitab Kalila wa Dimna mengajarkan: jangan senang bersahabat dengan raja, karena mereka tak mengenal janji dan kesetiaan. Hikmah Persia menambahkan: harta dan kekuasaan merusak semua orang, kecuali yang berakalnya sempurna. Pertanyaannya, siapa yang berani mengklaim kesempurnaan akal itu?

Orang dekat penguasa, kata para bijak, seperti menunggang singa. Orang lain memandangnya dengan takut dan kagum. Tapi sang penunggang sendiri gemetar di atas punggung binatang buas itu. Setiap saat bisa diterkam. Setiap detik bergantung pada mood sang predator.

Yang lebih tragis adalah metafor pohon anggur. Ia tak merambat ke pohon yang paling mulia, melainkan ke duri-durinya. Begitulah cara orang mendekati kekuasaan. Untuk bertahan, kau harus menjadi seperti duri. Tajam, melukai, dan kehilangan kelembutanmu.

Maka ketika melihat tokoh agama berfoto mesra dengan penguasa, atau budayawan yang tiba-tiba membela kebijakan yang dulu dikritiknya, ingatlah: mereka bukan sedang memperbaiki sistem. Mereka sedang ditunggangi olehnya, atau lebih buruk, sedang berubah menjadi duri.

—Robin Syihab

updatedupdated2026-03-052026-03-05