
AI sudah hampir bisa melakukan semua hal yang bisa manusia lakukan. Dari pekerjaan sederhana hingga analisis data yang kompleks, dari laporan keuangan hingga programming, batasan antara kemampuan mesin dan manusia kini semakin tipis. Pertanyaan yang menggantung bukan lagi tentang apa yang bisa dilakukan AI, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang harus kita lakukan setelah ini? Ke mana arah kita ketika hampir semua yang kita kuasai bisa direplikasi oleh mesin?
Mungkin tahun 2026 akan menjadi singularity. Mungkin juga tidak. Yang pasti, kita berada di ambang perubahan di mana norma dan hukum yang selama ini kita pahami mulai runtuh. Matt Shumer, CEO HyperWriteAI, menggambarkan momentum ini sebagai perkembangan dengan kecepatan yang “insane”, sesuatu yang kebanyakan orang masih meremehkan. Dia menulis peringatan itu untuk keluarga dan teman-temannya, dengan urgensi yang terasa dalam kalimatnya: “send it to someone who needs to read it.” Kenormalan baru bukan sesuatu yang stabil, melainkan serangkaian perubahan yang datang terlalu cepat untuk bisa kita serap sepenuhnya. Setiap tahun membawa lompatan besar, dan manusia mulai kesulitan mengikuti irama yang didikte oleh mesin buatannya sendiri. Kita menciptakan sesuatu yang kemudian mengendalikan tempo kita.
AI akan men-drive kita sampai mana? Pertanyaan ini menggelisahkan karena jawabannya semakin sulit diprediksi, bahkan oleh manusia yang menciptakannya. Kita sudah kehilangan kemampuan untuk melihat jauh ke depan dengan jelas. Yang tersisa adalah respons: beradaptasi, belajar lebih cepat, atau tertinggal. Pilihan itu terdengar sederhana, tapi eksekusinya penuh ketidakpastian. Karena beradaptasi dengan sesuatu yang berubah lebih cepat dari pemahaman kita adalah seperti mengejar bayangan yang bergerak lebih cepat dari langkah kita.