
Kebodohan bukanlah musibah kebetulan. Ia datang seperti kabut, pelan namun pasti, merayap masuk lewat celah-celah ambisi. Kekuasaan memberinya sayap, membuatnya terbang dan kalap.
Saya kenal banyak orang brilian. Pikiran mereka tajam, argumen mereka kokoh, analisis mereka menembus lapisan-lapisan masalah dengan presisi yang menakjubkan. Tapi keajaiban itu luruh begitu mereka melangkah ke dalam lingkaran kekuasaan yang dipenuhi orang-orang dungu. Kecerdasan mereka seperti lilin yang padam, bukan karena angin kencang, tapi karena mereka sendiri mematikannya.
Kekuasaan menciptakan ekosistem tersendiri. Di dalamnya, kebodohan kolektif menjadi mata uang yang lebih berharga daripada pemikiran kritis. Untuk bertahan, orang cerdas mulai menyesuaikan diri, mereka berhenti bertanya, berhenti menantang, berhenti berpikir. Mereka memilih aman daripada benar. Lama-kelamaan, penyesuaian ini bukan lagi topeng. Ia menjadi wajah asli mereka.
Di lingkaran kekuasaan, kebodohan bukan kekurangan. Ia adalah tiket masuk, mata uang dan komoditas, serta bahasa yang harus dikuasai untuk melawan ancaman di luar lingkaran. Mereka yang brilian menukar nalar dengan keamanan, dan dalam pertukaran itu, mereka lupa siapa diri mereka dulu.
—Robin Syihab