Iran dan Seni Mengubah Medan Perang

Iran dan Seni Mengubah Medan Perang

Ketika pedang terangkat dan kuda perang meringkik, kecerdasan sering lebih menentukan daripada keberanian. Bangsa Persia memahami hal ini sejak ribuan tahun lalu, dan jejak kejeniusan itu masih terasa hingga hari ini.

Tahun 627 Masehi, 24.000 pasukan koalisi Quraish bergerak menuju Madinah. Kota itu terbuka, nyaris tanpa pertahanan di sisi utara. Di tengah kepanikan, Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah asal Persia, mengusulkan sesuatu yang belum pernah dikenal bangsa Arab: menggali parit. Strategi sederhana tapi brilian. Pasukan berkuda yang menjadi andalan Quraish menjadi tak berguna di hadapan parit dalam dan lebar. Madinah selamat. Rasulullah sendiri sangat menghargai kecerdasan Salman, mengakui bahwa ilmu perang Persia memiliki kedalaman tersendiri.

Lima belas abad kemudian, DNA taktis yang sama muncul dalam wujud berbeda. Pada Operasi True Promise 4 (2025-2026), Iran melancarkan serangan berlapis yang terencana matang. Fase pertama: membanjiri langit Jazirah Arab dengan drone Shahed dan rudal generasi lama. Targetnya bukan pangkalan militer biasa, melainkan sistem radar peringatan dini AS. Radar AN/FPS-132 di Qatar senilai $1,1 miliar, radar terbesar AS di Timur Tengah, dihancurkan. Radar AN/TPY-2 THAAD di UAE dan Jordania bernilai masing-masing sekitar $500 juta juga lumpuh. Dengan senjata murah, Iran membutakan mata elektronik senilai miliaran dolar.

Setelah radar buta, fase kedua dimulai. Rudal balistik Khorramshahr-4 (Kheibar) melesat ke Israel. Jangkauan 2.000 kilometer, hulu ledak 1.500 kilogram, kemampuan membawa banyak warhead sekaligus. Tanpa radar peringatan dini, Israel kehilangan waktu krusial untuk mencegat. Apa yang dulunya parit tanah di Madinah, kini menjelma menjadi saturasi elektronik di langit Timur Tengah.

Salman menggali parit di tanah Madinah. Lima belas abad kemudian, Iran menggali parit di langit. Wujudnya berbeda, nadinya sama: ubah medan perang sampai kekuatan musuh menjadi sia-sia. Kuda Quraish berhenti di bibir parit. Radar Amerika membara dalam kebutaan. Sanksi datang dan pergi, serangan udara silih berganti, tapi ada sesuatu yang tak pernah bisa dimusnahkan: kejeniusan taktis yang mengalir dalam darah peradaban Persia, diwariskan dari guru ke murid, dari ayah ke anak, dari satu milenium ke milenium berikutnya.

—Robin Syihab

updatedupdated2026-03-062026-03-06