
Revolusi AI tidak akan memakan buruh pabrik terlebih dahulu. Ironisnya, yang pertama tergusur justru para pekerja kerah putih: akuntan, analis, penulis, programmer. Pekerjaan yang selama ini dianggap aman karena membutuhkan “kecerdasan” akan dilahap mesin yang berpikir lebih cepat, lebih presisi, dan tanpa jeda istirahat.
Ketika robot menggantikan tangan, manusia masih punya pikiran untuk ditawarkan. Tapi ketika AI menggantikan pikiran, apa yang tersisa untuk dijual? Di persimpangan inilah peradaban berdiri, menatap jurang yang belum pernah dilewati.
Masyarakat akan terbelah menjadi dua kutub tanpa ruang di antaranya. Di satu sisi, kaum elit yang menguasai dan mengarahkan AI. Di sisi lain, mereka yang terputus dari akses teknologi ini. Kelas menengah, yang selama ini menjadi penyangga stabilitas sosial, perlahan lenyap. Tanpa kebijakan yang tepat dari pemerintah, jarak antara kedua kutub akan menganga semakin lebar hingga mustahil dijembatani.
Dalam dunia seperti ini, bekerja mungkin berubah dari kewajiban menjadi pilihan. Kelas bawah bisa jadi kembali ke pola hidup agraris: bertani, berkoloni, membangun komunitas subsisten seperti leluhur mereka berabad silam. Sebuah kemunduran yang ironis di puncak kemajuan teknologi.
Maka pertanyaan yang mendesak bukanlah kapan ini terjadi, melainkan apa yang sedang kita siapkan. Redistribusi akses terhadap AI harus mulai dipikirkan sekarang, sebagai hak dasar, bukan kemewahan. Karena siapa yang menguasai AI, dialah yang menentukan, siapa yang akan bertahan, dan siapa yang tergilas zaman.
Mereka yang jeli membaca arah angin tidak akan menunggu badai tiba. Mereka mulai bergerak hari ini: mendesak kebijakan yang berpihak pada manusia, memperkuat ikatan dengan tetangga dan komunitas, menyiapkan tanah untuk ditanami. Ketika institusi goyah, yang tersisa adalah orang-orang di sekitar kita. Dan ketika rantai pasok terputus, yang menyelamatkan adalah apa yang tumbuh di halaman sendiri. Mungkin akan tiba masanya kita lebih banyak makan dari apa yang kita tanam daripada apa yang kita beli.
Ada hal yang mesin tidak bisa hasilkan. Keaslian, contohnya. Di dunia serba AI, karya tangan manusia jadi langka dan bernilai tinggi, sama seperti piringan hitam yang justru naik harganya di era streaming. Kemampuan fisik tertentu juga tetap relevan: memasang instalasi listrik, mengolah tanah, mengelola sumber air sendiri. Saat semua orang bisa berpikir pakai AI, tangan terampil jadi keunggulan. Dan yang paling penting: kepercayaan. Jaringan kecil orang-orang yang saling kenal kemampuan masing-masing, yang bisa saling bantu tanpa tergantung sistem luar. Kepercayaan seperti ini tidak bisa dibuat oleh algoritma.
Kita mungkin tidak bisa bersaing dengan AI, maka hiduplah di celah yang AI tidak peduli atau tidak bisa masuki: air, tanah, keaslian, kepercayaan, kasih sayang, cinta, dan kewarasan.
โ Robin Syihab