
Seorang Arab Badui bertanya tentang tanda kiamat, sang Nabi menjawab dengan kalimat yang tajam: “Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat.” Ketika ditanya bagaimana amanah bisa hilang, beliau melanjutkan, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Bukhari). Peringatan ini sederhana, membekas, dan abadi. Kehancuran sebuah peradaban dimulai dari satu kesalahan mendasar: menyerahkan kemudi kepada mereka yang tidak tahu cara mengemudikan kapal.
Kita tidak perlu menunggu kiamat untuk menyaksikan kerusakan itu. Cukup lihat ke Timur Tengah pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat melancarkan Operation Epic Fury ke Iran. Keputusan militer yang berbahaya, dipicu oleh kepemimpinan yang lebih pandai berkampanye daripada memahami geopolitik. Empat puluh pejabat Iran tewas, kawasan berguncang, harga minyak melonjak, dan dunia kembali menatap cemas ke arah konflik tanpa akhir. Di Indonesia, presiden yang baru saja masuk ke “board of peace” justru memaksakan program Makan Bergizi Gratis yang menguras hampir sepertiga anggaran pendidikan. Ribuan siswa keracunan, protes meletus di berbagai daerah, gugatan masuk ke Mahkamah Konstitusi. Program yang dimaksudkan baik, dijalankan tanpa kompetensi, berubah menjadi bencana. Ketika jabatan diserahkan kepada mereka yang pandai berjanji tetapi tidak mampu menepati, kehancuran sudah mulai berjalan. Pelan, tapi pasti.
Kompetensi dalam kepemimpinan melampaui soal teknis atau pendidikan formal. Syekh Mutawalli al-Sya’rawi menjelaskan bahwa kerusakan terbesar terjadi ketika masyarakat dibangun di atas fondasi kemunafikan dan ketidakseimbangan, bukan keikhlasan dan keahlian. Orang-orang munafik yang bodoh naik ke panggung kekuasaan, sementara mereka yang kompeten terpinggirkan. Akibatnya? Masyarakat kehilangan kebenaran dan nilai-nilai. Setiap orang hanya mengejar keinginannya sendiri tanpa menghiraukan hak orang lain. Orang yang bekerja keras merasa tidak ada gunanya lagi bekerja karena hak mereka tidak terpenuhi. Akhirnya, seluruh masyarakat berubah menjadi kelompok yang tidak produktif. Sebuah bangsa yang hidup seperti hutan rimba.
Kisah Imam Syafi’i memberikan teladan yang kuat. Di penghujung usianya, ketika diminta menunjuk pengganti untuk majelisnya, ia tidak memilih Ibnu ‘Abdil Hakam, murid yang telah banyak membantunya, bahkan pernah membebaskan seorang budak hanya karena kedatangan sang imam. Alih-alih, Imam Syafi’i menunjuk Isma’il bin Yahya al-Muzani, seseorang yang lebih kompeten dalam ilmu. Keputusan ini bukan pengkhianatan terhadap jasa, melainkan pengabdian kepada amanah. Imam Syafi’i paham bahwa tanggung jawab bukan hadiah untuk orang yang kita sayangi, melainkan beban yang harus diserahkan kepada mereka yang mampu memikulnya dengan benar. Jasa dan persahabatan penting, tetapi kompetensi tidak bisa ditawar. Rasulullah sendiri pernah menolak permintaan Abu Dzar untuk menjadi pejabat dengan mengatakan, “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar.” (HR. Muslim). Penolakan ini bukan penghinaan, melainkan kasih sayang.
Peringatan Rasulullah adalah panduan hidup untuk setiap generasi. Ketika sebuah bangsa mengabaikan prinsip kompetensi, ketika kursi kekuasaan diisi oleh mereka yang pandai berretorika tetapi miskin eksekusi, ketika jabatan dibagi-bagikan berdasarkan kedekatan bukan keahlian, maka saat itu juga kehancuran sudah mulai berjalan. Kita tidak perlu menunggu akhir zaman untuk menyaksikannya. Cukup lihat sekeliling: masyarakat yang kehilangan kepercayaan, sistem yang tidak berfungsi, nilai-nilai yang runtuh. Itulah kiamat kecil yang dimulai dari satu kesalahan sederhana: menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya.
—Robin Syihab