Maghrib di hari pertama registrasi, kabel internet kami dipotong orang.
Bukan putus sendiri. Dipotong. Seseorang memanfaatkan sela-sela pergantian shift keamanan, menggunting kabel di area registrasi, lalu menghilang. Padahal acara baru dimulai hari itu juga, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, 27-31 Agustus 2026, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Sekitar enam ribu orang tercatat hadir, gabungan peserta Muktamar, tamu undangan, relawan, petugas keamanan, serta panitia dari pusat, daerah, hingga lokal, dan masalah di area registrasi langsung muncul di malam pertama.
Cryptocurrency kerap diperkenalkan lewat harganya: grafik yang naik-turun, kabar yang heboh, atau cerita orang yang menang besar. Cara berkenalan seperti ini menanam kesan yang keliru dan dangkal. Padahal, di balik gemuruh angka itu, crypto lahir dari pertanyaan yang jauh lebih dalam.
Untuk memahami cryptocurrency dengan benar, kita perlu memulainya dari pertanyaan yang lebih mendasar: apa itu uang, mengapa kita mempercayainya, dan apakah pertukaran nilai di internet harus selalu bergantung pada lembaga pusat seperti bank atau perusahaan? Dari pertanyaan inilah cryptocurrency lahir.
Bayangkan sebuah pemilihan selesai. Hasilnya diumumkan. Lalu seseorang bertanya: “Dari mana kamu tahu angka itu benar?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi coba dijawab dengan jujur, mengapa kita percaya? Apakah kita percaya karena panitia bilang begitu? Atau kita percaya karena sistemnya terlihat resmi? Atau kita percaya karena tidak ada yang protes? Mengapa tidak ada yang protes? Karena yang protes tidak punya bukti yang cukup kuat untuk menggugat.
Model kepercayaan semacam ini sebenarnya rapuh, karena bertumpu pada asumsi bahwa semua orang yang terlibat bertindak jujur, bahwa tidak ada tekanan dari luar, bahwa operator sistem tidak punya kepentingan tersembunyi. Asumsi-asumsi itu mungkin benar, tapi bisa jadi tidak, lalu bagaimana solusinya?
Di layar lebar Hollywood, Amerika selalu bermimpi sebagai pejuang. Rebels melawan Empire, rakyat melawan penindas, yang lemah melawan yang sewenang. Mereka merayakan perlawanan, bersorak untuk yang tertindas, membeli ilusi bahwa mereka berada di sisi yang benar.
Star Wars memberi mereka Luke Skywalker melawan kekaisaran galaksi. The Hunger Games memberi Katniss Everdeen melawan totalitarianisme yang menelanjangi kemanusiaan. Film demi film, narasi itu berulang, mereka seolah berteriak “kami adalah pemberontak”, “kami melawan tirani”, “kami adalah good guys”. Rakyat Amerika mencintai cerita ini sampai ke sumsum tulang.
Perang Israel-Iran baru saja mempermalukan Amerika di depan dunia.
Selama puluhan tahun, negara-negara Teluk Arab membayar triliunan dolar untuk sistem pertahanan buatan AS. Patriot missiles, F-35, Iron Dome. Nama-nama besar dengan harga selangit. Janji perlindungan tidak terpenuhi, terbukti ketika Iran memutuskan menyerang, basis militer amerika tidak bisa bertahan. Drone buatan Iran yang harganya murah berhasil menembus pertahanan yang super mahal dan canggih.
Negara-negara Teluk tidak bodoh. Mereka mulai menarik dana dari Amerika. Yang paling ramai adalah eksodus investor Arab dari BlackRock. Kalau tidak bisa melindungi kami, kenapa kami harus membiayai kalian?
Ketika pedang terangkat dan kuda perang meringkik, kecerdasan sering lebih menentukan daripada keberanian. Bangsa Persia memahami hal ini sejak ribuan tahun lalu, dan jejak kejeniusan itu masih terasa hingga hari ini.
Tahun 627 Masehi, 24.000 pasukan koalisi Quraish bergerak menuju Madinah. Kota itu terbuka, nyaris tanpa pertahanan di sisi utara. Di tengah kepanikan, Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah asal Persia, mengusulkan sesuatu yang belum pernah dikenal bangsa Arab: menggali parit. Strategi sederhana tapi brilian. Pasukan berkuda yang menjadi andalan Quraish menjadi tak berguna di hadapan parit dalam dan lebar. Madinah selamat. Rasulullah sendiri sangat menghargai kecerdasan Salman, mengakui bahwa ilmu perang Persia memiliki kedalaman tersendiri.
Seorang Arab Badui bertanya tentang tanda kiamat, sang Nabi menjawab dengan kalimat yang tajam: “Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat.” Ketika ditanya bagaimana amanah bisa hilang, beliau melanjutkan, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Bukhari). Peringatan ini sederhana, membekas, dan abadi. Kehancuran sebuah peradaban dimulai dari satu kesalahan mendasar: menyerahkan kemudi kepada mereka yang tidak tahu cara mengemudikan kapal.
Perang meletus, media sosial dipenuhi spekulasi kiamat. Banyak yang sibuk menghitung tanda, menafsir ramalan, mencari kepastian tanggal. Padahal pertanyaan yang lebih mendesak bukan “kapan”, melainkan “apakah kita siap?”
Ada kisah dalam hadis yang selalu saya ingat setiap kali melihat hiruk pikuk pembahasan kiamat. Seorang Badui datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya tentang waktu kiamat. Alih-alih menjawab dengan rentang waktu atau daftar tanda, Rasulullah balik bertanya soal kesiapan. Percakapan itu tercatat dalam riwayat Anas bin Malik:
Setiap kali kamu mengetik sesuatu di internet, kamu meninggalkan sidik jari. Lebih buruk lagi, semakin banyak yang kamu ketik, semakin telanjang dirimu di Internet, cara kamu menyusun kalimat, topik yang kamu bahas, opini yang kamu lontarkan seperti pandangan politik, bahkan cara kamu memberi rating film. Semua itu, yang selama ini kamu anggap tersembunyi di balik username anonim, ternyata cukup untuk membongkar siapa kamu sebenarnya, dan itu tidak lagi sulit, thanks to LLM.
Mereka datang dengan jubah kebaikan, membawa dalih pembenaran. Para budayawan, ustadz, gus, dan kyai berbondong mendekati singgasana, mengaku hendak meluruskan yang bengkok dari dalam. Tapi Abu Bakr al-Turtushi, dalam Sirāj al-Mulūk sembilan abad silam, sudah memberi peringatan: siapa yang ingin menegakkan dinding miring, bersiaplah tertimpa reruntuhannya.
Kitab Kalila wa Dimna mengajarkan: jangan senang bersahabat dengan raja, karena mereka tak mengenal janji dan kesetiaan. Hikmah Persia menambahkan: harta dan kekuasaan merusak semua orang, kecuali yang berakalnya sempurna. Pertanyaannya, siapa yang berani mengklaim kesempurnaan akal itu?